Rabu, 27 Juli 2011

JEMBATAN BANGSA DONG & BATANG HALUAN



Zaman sekarang jembatan bukan hanya berfungsi sebagai penghubung antara dua lokasi, namun juga menyimbolkan kemajuan seni, estetika, wibawa, prestise dan teknologi khususnya di sebuah wilayah. Para arsitek dan ilmuan telah mampu memadukan keindahan seni dan teknologi secara bersamaan dalam rangka membuat jembatan yang lebih besar, lebih baik, lebih indah, lebih kuat dan lebih spektakuler dari yang pernah ada sebelumnya.
Diberbagai belahan dunia, masyarakat dan pemimpinnya berlomba membangun jembatan yang bisa diingat orang sepanjang masa. Indonesia sudah mulai membangun jemebatan yang prestisius, seperti Jembatan Suramadu di Jawa Timur yang menghubungkan Surabaya dan Madura. Panjang jembatan ini lebih dari lima kilo meter (5.438 meter). Sekarang Indonesia sedang merencanakan pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera. Wow.... dahsyatnya !
Wind and Rain Bridge – Cina
Pembangunan jembatan dengan berbagai konsep penggabungan antara keindahan, kekuatan dan kenyamanan ini sudah berlangsung lama. Bahkan di salah satu bagian Provinsi Guizhou - China, sudah dimbangun jembatan indah tahun 1894. Jembatan ini dikenal orang sebagai Jembatan Bangsa Dong (Jembatan Angin dan Hujan – Wind and Rain Bridge).
Mari kita bayangkan, tahun 1984 (Lebih dari 100 tahun yang lalu) kelompok masyarakat dan pemimpinnya mampu membangun sebuah jemabtan yang sungguh indah, kokoh dan penuh wibawa. Wind and Rain Bridge adalah simbol arsitektur bangsa minoritas Dong. dimana komunitas Dong terbesar Cina menetap. Jembatan panjangnya 50 meter dan pertama dibangun tahun 1894 ada juga yang bilang tahun 1916.
Jembatan dibuat dengan arsitektur kayu murni yang terdiri dari pilar dalam berbagai ukuran dan bentuk. Badan jembatan berbentuk menara drum Cina tradisional. Pada beberapa tempat jembatan dihiasi dengan bunga, ukiran dan jembatan ini sangat unik.
Jembatan Batang Haluan
Jika Jembatan Bangsa Dong yang mewah, prestisius dan bermakna tinggi secara ekonomi bisa dibangun tahun 1894 oleh Bangsa Dong China, ada apa dengan jembatan Batang Haluan ? Haruskah pembangunan sebuah jembatan di suatu kabupaten menunggu dana APBN saja ? Apakah tidak ada cara lain yang lebih cepat, terhormat, bermartabat dan bermnafaat untuk masyarakat banyak ?
Sampai kapan Kabupaten Pasaman Barat bisa mandiri secara ekonomi dan bisa bicara dengan penuh wibawa di forum nasional, kalau untuk membangun sebuah jembatan saja harus menunggu dana APBN? Apakah tidak tidak ada tokoh di Pasaman Barat yang bisa menggalang, menggerakkan, dan menghimpun dana untuk membangu sebuah jembatan ?
Negara ini memikirkan lebih dari 500 Kabupten di Indonesia. Pasaman Barat hanyalah salah satu Kabupaten di Indonesia, yang jika ditanya rakyat Indonesia tidak sampai 1 % orang mengenal Kabupaten yang bernama Kabupaten Pasaman Barat. Kenapa hanya sedikit orang yang mengenal Kabupaten Pasaman Barat ? Tentu saja jawabannya bukan karena kabupaten ini baru berumur 5 tahun, tetapi karena belum ada sesuatu yang dihasilkan yang unik, menarik, bisa dibanggakan, dan sesuatu yang patut ditiru oleh Kabupaten lain.
Kabupaten lain yang baru, misalnya Kutai Timur, Kutai Barat dan Kutai Kartanegara bisa cepat terkenal di nasional dan dunia karena mereka cepat mandiri secara ekonomi. Kota dan Kabupaten Bogor terkenal di Indonesia dan dunia bukan karena sudah lama berdiri tetapi karena memiliki keunikan seperti Kebun Raya Bogor, Puncak, Taman Safari dan perguruan tingginya. Kabupaten Teluk Bintuni di Papua Barat, terkenal di Indonesia dan dunia selain karena kekayaan biodiversiti tetapi juga karena potensi tambangnya. Kintamani di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali terkenal bukan karena lama berdiri kabupatenya tetapi karena faktor keunikan budaya dan keindahan alamnya. Nah........ Kabupaten Pasaman Barat ingin dikenal di nasional dan dunia, apa yang ditawarkan ?
Rasanya malu juga kita sebagai anak – cucu – kemenakan Kabupaten Pasbar jika untuk membangun sebuah jembatan saja harus menunggu dana APBN. Bukankah jembatan ini untuk kebutuhan kita semua ?
Di Pasaman Barat, jumlah perusahaan lebih dari 15 dan jumlah penduduknya + 100 ribu KK. Apakah tidak bisa menggerakan potensi yang besar ini? Mari kita belajar dari kisah hidup ”Prita Mulyasari”. Dengan kebersamaan masyarakat, melalui koin saja bisa terkumpul uang + 1 milyar. Malu dong, kita warga Pasbar.
Jembatan Batang Haluan terletak di pusat pemerintahan Kabupaten Pasaman Barat. Setiap tamu yang datang ke Pasaman Barat, baik pejabat, investor dan civil society lainnya akan melewati Jembatan Batang Haluan. Bagaimana ya, pendapat mereka jika melihat di tengah pusat pemerintahan, jembatannya runtuh dan tidak diperbaiki? Mungkinkah investor tertarik datang ke Pasaman Barat jika melihat kebersamaan masyarakatnya sangat minim ?
Di pusat kota Kabupaten saja jembatannya rusak, apalagi di daerah lain. Jangan-jangan banyak daerah yang belum punya jembatan. Apakah kita tidak malu pada rakyat China, tahun 1894 saja mereka sudah bisa mebangun sebuah jembatan yang monumental, prestisius, bernilai tinggi secara estetika dan dikunjungi oleh wisatawan seluruh dunia. Kita yang hidup 100 tahun lebih maju tidak bisa membangun jembatan yang sederhana sekalipun? Wallahu’alam bissawab.
*) Muhammad Ridwan, S.Hut
- Forestry Specialist of CER - Indonesia
(Carbon &  Environmental Research Indonesia)
Sekretaris Umum IKPB & Pemimpin Redaksi Buletin IKPB

Tulisan ini sudah diterbiktan pada Buletin IKPB edisi 09 tahun 2011.

Pemimpin Visioner dalam Halal bi Halal IKPB


H
alal bi Halal (HbH) IKPB sudah berlalu sekitar 3 bulan, tepatnya 31 Oktober 2010. Biarpun demikian kesan mendalam atas acara HbH IKPB tidak mudah dilupakan. Ada beberapa hal yang membuat HbH IKPB kali itu begitu spesial antara lain kehadiran banyak tokoh Pasaman Barat, minang & Nasional, ide kreatif berupa Festival Kuliner Pasbar, desain acara yang menarik, peserta yang rame membludak dan berbagai hiburan menarik lainnya.


Beberapa tokoh nasional dan Minang yang hadir antara lain : H. Azwar Anas (Mantan Gubernur Sumbar dan Menteri Perhubungan RI), Mayjen (Purn) Drs. H. A. Nazri Adlani (Wakil MPR RI Periode 2004 – 2009), H. Ismail Hasan, Prof. Dr. Syafril Kemala (peneliti nasional bidang sosial ekonomi pertanian), Bahardduin R (Bupati Kabupaten Pasaman Barat), Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si (Wali Kota Padang), dan beberapa tokoh lainnya. Kehadiran tokoh ini sebagai simbol kokohnya tali silaturrahmi antara tokoh Pasbar, Sumbar, Nasional dengan perantau Pasbar di Jabodetabek.


Perda Bernuansa Religius

Bupati Pasbar (Baharuddin R) dalam sambutannya menyampaikan tentang kepedulian Pemda dalam pembangunan fisik dan non fisik untuk Kabupaten Pasbar. Pembangunan fisik berupa infrastruktur jalan, bangunan, lahan pertanian dan yang lainnya akan dilakukan lebih cepat, terpadu dan demi masyarakat akan dilakukan.


Selain pembangunan fisik, Pemda Pasbar juga serius memperbaiki sisi non fisik kemasyarakatan. Hal ini dibuktikan dengan sudah dibuatnya beberapa Peraturan Daerah (Perda) yang bernuansa religius. Perda yang sudah dibuat antara lain; Perda Pemakaian jilbab dan pakaian muslim, Perda tentang pelaksanaan hiburan di Pasbar dan Perda tentang wajib bisa baca Al-Qur’an.


Munculnya Perda bernuansa religius ini perlu didukung oleh semua pihak. Bahwa pembangunan yang bisa langgeng bukan hanya pembangunan fisik semata tetapi harus diikuti oleh pembangunan iman dan taqwa seperti yang pernah dicanangkan oleh Prof. Dr. Habibie pada era 1990-an.


Pembangunan Berbasis Mesjid

Inilah indahnya jika banyak tokoh berkumpul. Kehadiran tokoh dalam suatu acara bukan hanya membuat acara makin meriah, lebih dari itu semua biasanya seorang tokoh akan memunculkan ide kreatif dan aplikatif. Lihatlah betapa positifnya masukan dari H. Azwar Anas (Mantan Gubernur Sumbar dan Menteri Perhubungan RI) untuk pembangunan Pasbar ke depan. Menurut beliau bahwa pembangunan ke depan harus berbasis dari Mesjid (mushalla). Secara praktis H. Azwar Anas, memberikan metode sederhana, seperti :

a. Hitung atau data jumlah orang yang datang ke mesjid setiap subuh di Pasbar. Sudah pernahkah kita tahu berapa jumlah orang yang shalat shubuh di Mesjid atau Mushalla

b. b. Data jumlah masyarakat miskin di sekitar mesjid. Bagaimana mungkin kita bisa menjalankan program pemberdayaan jika jumlah orang miskin di sekitar mesjid (yang dekat dengan kita) saja, kita tidak tahu jumlahnya.

c. c. Inventarisasi kegiatan ekonomi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat miskin dengan melibatkan tokoh adat (datuk), tokoh agama (alim ulama) dan berikan bantuan dari Pemda untuk masyarakat melalui pelibatan lembaga adat dan agama. Model pinjaman dan pengembalian dilakukan melalui mesjid dan jika ada yang lalai juga diumumkan di mesjid (sanksi sosial).

d. d. Kembali ke Mesjid / Surau; perencanaan, bantuan, diskusi dan evaluasi dilakukan di mesjid.

e e. Bangun jalan jika ingin maju. Pembangunan jalan akan mampu mengoptimalkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang ada dalam suatu wilayah. Pembangunan jalan secara langsung dan tidak langsung akan mampu meningkatkan kualitas perekonomian masyarakat.

Ketua Umum IKPB Periode 2010 – 2015 dalam sambutannya menitik beratkan pada pentingnya kebersamaan perantau dan kampung halaman untuk membangun nagari. Kebersamaan harus diperkuat dan kekurangan sama-sama diperbaiki. Selain itu Ketua Umum IKPB yang baru ini juga menyampaikan beberapa program strategis dan praktis IKPB ke depan antara lain pelaksanakan pertemuan yang reguler, melakukan berbagai seminar untuk memberikan masukan pada Pemda dan berencana membangun sekretariat IKPB di Jabodetabek.


(M. Ridwan)

Tulisan ini sudah diterbitkan pada Buletin IKPB edisi 09 tahun 2011

IKAN DEWA


Ada adagium militer, kemenangan kecil yang diketahui 1000 orang, jauh lebih bernilai daripada kemenangan besar yang hanya disaksikan 10 orang. Dalam konteks Pasaman Barat, salah satu nagarinya memiliki keunikan, kelebihan dan nuansa yang begitu mempesona yaitu Lubuak Landua di Nagari Aua Kuniang. Daerah ini dianugerahi kekayaan biodiversity yang mengagumkan, wisata religius yang memikat dan pemimpin yang kharismatis. Namun area ikan larangannya tidak dikelola dengan baik, kurang publikasi dan miskin perhatian pemerintah.

Ikan dewa adalah salah satu jenis ikan yang sungguh fenomenal. Dari namanya saja orang akan langsung terperangah dan bertanya, kenapa disebut ikan dewa, dimana saja penyebarannya, dan apa mitos yang melekat dengan ikan jenis ini ?

Yang paling terkenal tentang ikan dewa adalah yang berada di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Tempat ini sudah menjadi daya tarik bagi wisatawan dari berbagai pelosok nusantara bahkan mancanegara dan sudah menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Kuningan. Rasanya belum mengunjungi Kabupaten Kuningan jika belum melihat ikan dewa.

Banyak legenda yang beredar mengenai asal-muasal ikan ini. Menurut berbagai sumber, dahulu kala ketika Prabu Siliwangi masih hidup, beliau memerintah dengan adil dan bijaksana, sehingga hampir semua prajurit dan rakyat tunduk penuh hormat pada Sang Prabu. Namun tak ada gading yang tak retak, begitupun dengan Prabu Siliwangi. Walaupun sudah memerintah dengan adil, masih ada saja prajurit yang tidak suka dan tidak puas terhadap Prabu Siliwangi. Singkat cerita, dikutuklah prajurit-prajurit yang membangkang tersebut sehingga menjadi ikan, yang keberadaannya masih bisa kita saksikan sampai sekarang di Kuningan.

Ada beberapa mitos tentang ikan dewa di Kuningan antara lain siapa yang bisa memegang ikan dewa akan mendapat berkah. Ikan ini bisa terus tumbuh dan berkembang karena masyarakat sekitar percaya jika ikan dewa diganggu atau dimakan bisa mengakibatkan kematian. Bagi kalangan konservasionis, adanya mitos seperti ini bernilai positif karena akan menjaga kelestarian jenis yang dikeramatkan. Bahkan belakangan ini muncul ide kreatif dari kalangan konservasionis untuk menjadikan beberapa spesies langka dengan mencari mitos tertentu.

Penyebaran Ikan Dewa
Penulis melihat ikan ini minimal ada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Di Sumatera salah satunya ada di Pasaman Barat, Sumatera Barat dan di Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Di Jawa ada di Kuningan, Jawa Barat. Dan di Kalimantan ada di Berau, Kalimantan Timur. Di semua tempat selain di Kuningan, ikan jenis ini dikonsumsi oleh masyarakat dan banyak ditemukan di sungai-sungai jernih dan berair bersih. Biasanya, kalau di sungai ditemukan jenis ikan dewa maka biasanya ada juga jenis ikan kulari (bahasa Pasaman Barat).

Ikan Larangan Lubuak Landua
Di Pasaman Barat – khususnya di Lubuak Landua, ikan ini tidak diganggu oleh masyarakat apalagi dimakan karena masyarakat percaya, jika ikan ini dimakan bisa mendatangkan kesialan, gila, perut buncit atau bahkan bisa menyebabkan kematian. Ikan larangan di Lubuak Landua banyak dikunjungi warga selain karena mitos, estetika juga didukung oleh adanya Surau Buya Lubuak Landua tempat masyarakat suluak (memperdalam ilmu agama).

Tahun 1998 & 2002, penulis sempat berkunjung ke Kuningan. Dalam waktu empat tahun terjadi perkembangan ikan dewa yang luar biasa; fasilitas makin lengkap, ikannya makin banyak & makin besar. Tetapi di Lubuak Landua dari tahun 1990 – 2009 penurunan ikannya begitumengkhawatirkan. Ikannya makin sedikit, makin kecil & debit airnya kian berkurang.
Kalau kita bandingkan, di Kuningan keberadaan ikannya tiap tahun bertambah banyak dan tambah besar maka di Lubuak Landua ikannya tiap tahun makin sedikit dan mengecil. Jika di Kuningan dibuatkan kolam yang luas maka di Lubuak Landua hanya dibiarkan di sungai tanpa ada intevensi yang konstruktif.

Membiarkan ikan ini di sungai apa adanya tentu kurang menguntungkan, karena kondisnya sangat dipengaruhi oleh sungai sendiri. Jika air besar ada kemungkinan ikan hanyut. Jika air terus-menerus mengecil maka akan mengurangi ruang tumbuh ikan. Dan kenyataanyanya, sungai ini tiap tahun debit airnya makin mengecil & makin dangkal sehingga menghambat pertumbuhan.

Mungkinkah suatu saat nanti tanah di sekitar ikan larangan Lubuak Landua dibebaskan sekitar 2 ha untuk memberi ruang tumbuh-kembang ikan ? Dengan dibebaskannya lahan sekitar ikan larangan diharapkan ikan makin banyak, makin besar sehingga pengunjung bisa lebih banyak, pedagang lebih berkembang dan pendapatan masyarakat sekitar meningkat. Kita tunggu political will eksekutif, legislatif dan tokoh masyarakat, sehingga penghasilan masyarakat bisa lebih baik dan Kabupaten Pasaman Barat makin terkenal.

*) Muhammad Ridwan, S.Hut
- Forestry Specialist of CER - Indonesia
(Carbon & Environtmental Research Indonesia)
Sekretaris Umum IKPB & Pemimpin Redaksi Buletin IKPB.

Tulisan ini pernah dimuat dalam Buletin IKPB edisi 08 tahun 2011

Susunan Pengurus IKPB Periode 2010 – 2015

A. Penasehat :

1. Mayjen (Purn) Drs. H. A. Nazri Adlani : Ketua

2. Prof. Dr. Ir. H. Syafril Kemala, M.Si : Wakil Ketua

3. Drs. H. Djardjis Thalib, MA : Sekretaris

4. H. Farida Tantri Abeng : Anggota

5. Dr. Farid Wajdi : Anggota

6. H. Asmu’i : Anggota

7. Zuardi Alies : Anggota

8. Drs. Maderman : Anggota

9. Dra. Hj. Emma Yohanna : Anggota

B. Pengurus Harian

Ketua Umum : Ir. Asrinal Rajab

Wakil Ketua Umum : Drs. Nases Djon, MM

Ketua Bidang Organisasi & Humas : Drs. Bahuddin

Ketua Bidang Ekonomi & Pembangunan : Drs. Himler

Ketua Bidang Sosial Budaya & Dakwah : Dahlan Lubis, M.MKes., MM

Ketua Bidang Diklat & Pengembangan SDM : Ir. Entos Zainal, M.Ph

Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan : Nurzaimar Nur

Sekretaris Umum : Muhammad Ridwan, S.Hut

Sekretaris I : : Ir. Yuri Rizal

Sekretaris II : Jasra Putra, S. Fil. I

Bendahara Umum : Hummad

Bendahara : Asril Bakri

Seksi-Seksi :

1. Seksi Organisasi : Alfitriandes Miter (Ketua)

Anggota : Dra. Fitniwilis; M. Afrizal; Khairul

2. Seksi Humas : Hafiz, S.E., MM

Anggota : Drs. M. Hunen, M.Pd.

3. Seksi Ekonomi & Kesra: Rahmat Saleh, S. E. (Ketua). Anggota : Akismanto; Dedi Defrizal

4. Seksi Usaha & Koperasi: Zainal Boer (Ketua)

Anggota : Dasril Alies; Mahwizar; Martondi

5. Pembangunan Daerah : Ir. M. Roem (Ketua)

Anggota : Miryul MT Miron, SE.; Azwir

Aftrinal Lubis, S.P.; Edi Rahmat

6. Seksi Sosial & Kesehatan : Dr. Irsyad Sadri (Ketua)

Anggota : Dr. Ahsan Atman; Ardi Husein

7. Seksi Budaya & Pariwisata : Dra. Ani Azhari (ketua). Anggota : Samridal, S.E., Dra. Yusmanidar, Upik Nurmi & Imelda

8. Seksi Dakwah & ZIS : Drs. Hasinggahan

Anggota : Dr. Ahmad Ridho Almunzier

9. Seksi Pendidikan : Supriadi (Ketua)

Anggota : Khairil Lubis; Alfitra, S.H.

10. Seksi Pelatihan : Syekh Azwar Syam, MM (Ketua)

Anggota : Aswin Tanjung

11. Pemuda & Olahraga : Nadiar Hakim (Ketua)

Anggota : Martalira

12. Seksi Pemberdayaan Perempuan : Icel (Ketua)

Anggota : Nosweti; Ani.

C. Badan Pelaksana/ Kelompok Kerja (Pokja)

1. Kerjasama Ranah & Rantau :

Miryul MT Miron, SE (Ketua)

Anggota :Assyifa Nurti Alma’ani ; Iswandi

2. Pengembangan Teknologi Informasi/ IT : Alfitriandes Miter (Ketua)

Anggota : M. Yunal ;

3. Penerbitan : Muhammad Ridwan, S. Hut (Ketua)

Anggota : Afrinal Lubis, S.P. ; Derwan

4. Penggalangan Dana/ Fund Rising : Elvin Ramli (Ketua)

Anggota : Bustami

5. Bantuan Hukum, HAM dan Advokasi : Alfitra, S.H. (Ketua)

Anggota : Haryanto ; Akhiruddin

Semoga dapat mengemban amanah Mubes IKPB

Selasa, 03 Agustus 2010

MENCARI NILAI TAMBAH

Siapa yang tidak ingin rekreasi ke seluruh pelosok nusantara. Lebih asyik lagi jika rekreasi ini dilakukan bersama keluarga. Bisakah petani Pasaman Barat bepergian kemana-mana dengan penghasilan seperti sekarang ? Jangankan untuk rekreasi, untuk makan sehari-hari saja susah. Disinilah konsep Nilai Tambah diperlukan. Tanpa adanya nilai tambah dalam usaha seperti biasanya maka sulit memenuhi kebutuhan primer apalagi kebutuhan tertier. Apa yang harus dilakukan petani Pasaman Barat untuk mendapatkan nilai tambah usahanya ?


Panjang jalan banyak diliek, panjang umua banyak diraso. Hikmah sebuah perjalanan sungguhlah banyak. Saya jika mendapatkan tugas ke luar kota, walaupun harus meninggalkan keluarga tetap melaksanakannya dengan suka cita. Syukur karena dipercaya menunaikan tugas dan yang lebih penting dapat pengalama yang sungguh berarti bagi pribadi dan jika kita mau berbagi akan bermanfaat bagi orang lain.Pertengahan April 2010 saya berkesempatan berkunjung ke Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Selain menikmati pemandangan yang berbeda, indah, nuansa sosial yang khas, kebudayaan yang memikat, ada hal menarik khususnya di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur. Secara umum mata pencaharian masyarakatnya hampir sama dengan masyarakat Pasaman Barat, yaitu sebagai petani.

Jika di Pasaman Barat masyarakat menanam padi, sejauh mata memandang yang ada hanyalah hamparan hijau bak permadani ketika padi mulai ditanam, dan berwarna kuning emas ketika padi menguning. Tidak ada yang lain ditanam petani selain padi dan hanya sebagian kecil menanam sayuran untuk konsumsi pribadi.

Namun ada yang sangat mencolok ketika saya melewati Lombok Tengah. Masyarakat selain menanam padi, di pematang sawah banyak ditemui pohon produktif lainnya. Di pematang sawah ada yang menanam mangga, durian, kayu jati, mahoni, sengon atau berbagai jenis sayur-sayuran.

Apa Nilai Tambahnya ? Masyarakat selain panen padi, maka ketika mangga berbuah mereka panen mangga. Mangga ditanam dengan beraturan atau kurang beraturan. Bagi yang beraturan, ditanam kira-kira dengan jarak 10 x 40 meter. Ini artinya, dalam satu hektar sawah ada sekitar 25 pohon komersil yang ditanam.
Jika mereka menanam mangga di pematang sebanyak 25 pohon/hektar, kalau satu mangga berbuah 500/pohon maka dalam 1 ha hasil mangganya sebanyak 12.500 buah mangga perpanen. Hasil sawah ? Tentu saja tetap seperti semula.

Bagi lingkungan, keberadaan tanaman di sawah selain padi bernilai positif. Lingkungan lebih nyaman dan bagi petani selain bernilai ekonomi, keberadaa tanaman pohon di pematang bisa digunakan sebagai peneduh ketika istirahat di siang hari.

Hmm, sungguh indah jika melihat pematang sawah di Pasaman Barat dihiasi dengan berbagai pohon komersil. Atau petani kita menanam sayuran untuk tujuan komersil. Dengan demikian, petani tidak hanya menunggu hasil padi di lahan garapannya tetapi banyak sumber penghasilan selain padi di lahan yang sama.
Inilah yang dinamakan dengan Nilai Tambah. Bagi pegawai negeri atau swasta tentu semua berkeinginan mendapatkan nilai tambah. Dan bagi pegawai banyak usaha lain tanpa korupsi waktu untuk mendapatkan nilai tambah.

*) Muhammad Ridwan, S.Hut
- Forestry Specialist of CER - Indonesia
(Carbon & Environtmental Research Indonesia)


- Sekretaris Umum IKPB & Pemimpin Redaksi Buletin IKPB.

Prestasi Gemilang Sepak Bola Pasbar

Mungkin terasa aneh mendengar ada tim Sepak Bola Pasaman Barat bisa berprestasi di tingkat nasional. Tapi inilah yang terjadi. Tim Sepak Bola Kabupaten Pasaman Barat yang bernama Popas Yunior Usia 15 tahun mewakili Sumatera Barat untuk kejuaraan Manchester United Premier Cup (MUPC), pada Mei 2010 di Jakarta.
Pertandingan tingkat nasional diikuti oleh 10 tim terkuat mewakili 10 propinsi yang terseleksi. Untuk Pulau Sumatera, diwakili oleh Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Untuk Pulau Jawa diwakili tim-tim tangguh dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk Pulau Kalimantan diwakili oleh tim dari Kalimantan Timur. Sulawesi diwakili oleh Sulawesi Selatan dan satu tim wakil dari Papua.
Kesempatan mewakili Sumatera Barat untuk berlaga di tingkat nasional tidak disia-siakan oleh tim Popas Yunior Pasbar. Hal ini terbukti dengan berhasilnya tim Popas Yunior mengalahkan Propinsi Banten pada babak 10 besar dengan skor telak 3 – 0. Tim Pasbar yang ditangani oleh Manajer Tim, Drs. Afrizal Azhar, M.Si dengan pembina langsung oleh Bupati Pasaman Barat.

Langkah gemilang tim Popas Yunior Pasbar terhenti di semi final oleh DKI Jakarta dengan skor tipis 2 – 1. DKI akhirnya menjadi juara nasional dengan mengalahkan Jawa Timur melalui adu pinalti.

Masuk semi final tingkat nasional adalah prestasi luar biasa bagi Kabupaten yang baru dimekarkan. Dan yang mengalahkan tim Pasbar adalah tim yang menjadi Juara Nasional. Ini adalah prestasi yang tinggi dan perlu diapresiasi.
Satu hal yang sangat menggembirakan adalah terpilihnya pemain Popas Yunior Pasaman Barat menjadi pemain terbaik tingkat nasional. Semua warga pasbar tentu bangga dengan prestasi ini. Tapi kita jangan berpuas diri sampai disini. Hal yang paling penting ke depan adalah pembinaan terus-menerus bibit potensial ini. Jangan sampai bibit unggul seperti ini hilang setelah berlaga sekali ditinkat nasional. Inilah PR bersama bagi segenap warga Pasaman Barat, baik yang ada di Pasbar, Sumbar, perantau dan tentu saja Pemda Pasaman Barat.

Jhon Syafnir

FACE BOOK & RUNTUAHNYO JEMBATAN BATANG HALUAN

Dunia sekarang memang tanpa batas. Berita runtuhnya jembatan Batang Haluan di Simpang Empat, Pasaman Barat justeru saya dapatkan dari orang yang berada di Kalimantan Barat. Face Book menjadi sarana komunikasi efektif, Segdia Sastra perantau Pasaman Barat yang ada di Kalaimantan Barat memberikan kabar pada saya lewat face book. Bunyi beritanya seperti ini :
“Jembatan Batang Haluan ambruk tgl 25 april 2010. Sampai sekarang (8 Mei 2010) belum bisa dilewati mobil. Yang bisa lewat hanya motor tapi dengan catatan bayar Rp2000/motor.! Kasihan masyarakat, udah jatuh tertimpa tangga”.


Gayung pun bersambut. Berita singkat ini langsung disambar oleh face bookers lainnya. Ada yang mengomentari dengan kata-kata, ”Terlalu”. Ada juga yang mengomentari dengan sedikit serius, seperti, ”Benar-benar terlalu. Apalagi panitia yang minta duit, emang Pemda tertidur, ya ...?? Kok di biarkan punggutan itu”.

Kapan ya … jembatan ini diperbaikiPara face bookers yang memiliki beragam latar belakang, menimpali sebuah berita sesuai background masing-masing. Ada yang serius, ada yang bercanda dan ada yang berempati pada masyarakat pengguna fasilitas umum ini. Lihatlah komentar beikut, ”Lagi-lagi, masyarakat jadi imbas ketidak-pedulian mereka”.
Yang parah nya lagi, Bapak-bapak yg udah digaji negara itu cuma sibuk meninjau saja tanpa memberi solusi yang cepat. Mudah-mudahan bapak-bapak kita yg duduk dikursi empuk nya itu gak cuma sibuk hitung gaji aja.

”Mokasi informasinyo, Da. Semoga kedepan setiap biaya untuk infratruktur indak dikorupsi sehingga aman sesuai umur pakai bangunan”, timpal face bookers lainnya.

Inilah sekelumit kondisi kampuang halaman yang saya dapatkan bukan dari sanak – saudara di kampuang tapi dari kemajuan teknologi. Sekarang kondisinya bagaimana ya ? entah lah, kita tunggu saja kinerja Bupati terpilih 2010.

Muhammad Ridwan